Friday, February 02, 2007

Taiwan

Ada 3 kota besar di Taiwan. Yang pertama Taipei. Taipei merupakan ibu kota Taiwan, letaknya di utara Taiwan. Ini kota yang paling ramai, namanya juga ibu kota. Yang kedua Taichung, letaknya di tengah-tengah. Waktu di Taiwan, saya tinggal disini. Yang ketiga Kaoshiung, letaknya di selatan Taiwan, ini kota terbesar kedua setelah Taipei.

Di Taiwan ada 9 suku asli. Salah satu jenis kostumnya seperti ini.



Yang paling terkenal dari Taipei adalah Taipei 101, gedung tertinggi di dunia saat ini.



Mulai dari lantai 1 sampai dengan lantai 5, mal. Malnya lumayan besar, barang-barang yang dijual untuk kelas menengah keatas.



Untuk melihat keindahan kota Taipei, pengunjung boleh naik sampai ke lantai 89 dengan membayar tiket NT 350. Katanya si bisa sampai lantai 101, tapi harus bayar lagi NT 100. Taipei 101 dilengkapi dengan lift tercepat di dunia. Untuk naik dari lantai 5 ke lantai 89 hanya membutuhkan waktu kira-kira 2 menit.



Saya selalu membayangkan suatu saat saya ingin memiliki sebuah internet café di gedung pencakar langit seperti 101, dikelilingi dinding kaca sehingga bisa melihat keindahan kota.



Ada banyak hal yang merupakan ciri khas dari Taiwan. Yang pertama adalah tahu busuk atau 臭豆腐(Chou Dou Fu). Modelnya ya tahu biasa, rasanya juga enak. Tapi baunya minta ampun. Dari jarak beberapa meter udah ketahuan kalau ada yang jual chou dou fu.
Yang kedua 夜市 (Ye Shi) atau pasar malam. Kalau di Indonesia, orang-orang jalan-jalan ke mal. Tapi di Taiwan, jarang yang jalan-jalan ke mal. Kebanyakan orang-orang jalan-jalan di ye shi. Tiap weekend, ye shi selalu ramai. Banyak jual baju dan makanan. Ini surga untuk yang senang shoping dan makan. Di setiap kota ada ye shi.



Selain tahu busuk dan pasar malam, ada satu lagi yang di seluruh dunia cuma di Taiwan yang ada, negara lain tidak ada, Bin Lang Xiao Jie.



Pemandangan seperti ini banyak di Taiwan. Pertama kali sampai ke Taiwan saya juga bingung. Ini majang apa? Masak jual diri? Ternyata, mereka jual Bin Lang dan rokok. Yang jual pakaiannya sexi banget, malahan ada yang hanya pakai bikini.
Mungkin Anda pernah tahu kalau di Indonesia, biasanya di desa-desa, banyak nenek-nenek yang ngunyah daun sirih. Mulutnya bisa sampai merah-merah. Sama, di Taiwan juga seperti itu. Bedanya, yang makan Bin Lang itu banyak anak mudanya, terutama laki-laki dan biasanya dari kalangan bawah. Tapi ada juga yang naik BMW sambil ngunyah Bin Lang dan tiba-tiba ngeludah ke jalan. Jadi kalau Anda jalan-jalan ke Taiwan dan ngelihat banyak bercak merah di jalanan, jangan kaget, itu bukan darah.

Beberapa hari pertama, saya dan Linda tinggal di rumah kakak sepupu saya. Kakak sepupu saya yang membantu saya mengurus sekolah dan mencarikan tempat tinggal. Setelah selesai semua, kami mulai tinggal di tempat sewaan.



Kami belajar bahasa mandarin di Feng Chia University, Taichung City. Kami masuk dalam language center division. Ini gedung yang paling dibanggakan. Di brosur pasti ada fotonya gedung ini, namanya 人言大樓 (Ren Yuan Da Lou).



Kami sempat nganggur beberapa hari karena waktu itu sekolah baru dimulai tanggal 5 Desember 2005. Untuk ngisi waktu, kami biasanya mampir ke kampus untuk buka-buka internet. Saya terus nyari-nyari cara untuk bisa menjalankan bisnis saya dengan cara online. Saya betah seharian di depan internet karena saya memiliki impian. Biasanya Linda yang gak betah nungguin saya online. Kalau sudah begitu, kami biasanya jalan-jalan ke mal sambil lihat-lihat keadaan kota Taichung. Kemana-mana jalan kaki. Bukan olah raga, tapi karena mau ngirit. Sebelum dapat part time job, kami tidak berani makai duit sembarangan. Takut kehabisan, maklum jauh dari orang tua dan keluarga. Mau apa-apa, mikir duit.



Pertama sampai di Taiwan, kami sama sekali tidak bisa baca tulisan mandarin. Dengar, bisa sedikit-sedikit karena kebetulan dari kecil kami sering mendengar orang tua kami bicara mandarin. Tapi untuk bicara, kacau. Kami baru tau, kalau bahasa mandarin itu ada nadanya. Nadanya lain, artinya juga lain. Misalnya seperti kata “JUAL” dan “BELI”, bacanya sama, tapi nadanya beda. Jadi seringnya kalau kami bicara, orang lain gak ngerti. Mereka juga tidak bisa bahasa Inggris, repot dah.

Kalau mau makan juga susah. Tulisan di menunya semua Mandarin. Tanya orangnya, dijelasin, gak ngerti. Sampai dibukain panci, suruh lihat sendiri. Jadi biasanya, biar gampang, lihat kolom di sebelah kanan, pilih yang nominalnya paling kecil, alias harganya paling murah. Dikurskan dulu ke Rupiah. NTD 1 = Rp 300, biar gampang ngitungnya. Pertama kali kaget, nasi campur di depot yang biasa-biasa, satu porsi Rp 15 ribu. Kalau di Surabaya bisa makan tiga kali ni, di warung depan kantor saya dulu.

Tanggal 5 Desember, hari pertama masuk sekolah. Pengenalan kampus dan murid baru. Ketemu dengan teman-teman baru dari berbagai negara. Jepang, Korea, Thailand, Perancis, Afrika, Australia, Amerika, dan lain-lain. Senang rasanya bisa dapat teman dari berbagai negara.

1 comment:

NOVI ORIFLAME said...

sekarang gedung tertinggi di dunia to Burj Kallifha, di Dubai, hehehehehe. Tapi taiwan punya sisi menarik untuk dikunjungi..